Raksasa Energi Jateng: Potensi Melimpah, Realita Finansial Terbatas

Jawa Tengah memiliki potensi energi terbarukan raksasa namun terbatas kelayakan finansial. Forum Energi Daerah membahas strategi transisi lewat PLTS atap, elektrifikasi, hingga skenario radikal pelarangan kendaraan BBM pada 2030 untuk tekan emisi.

Raksasa Energi Jateng: Potensi Melimpah, Realita Finansial Terbatas
Raksasa Energi Jateng: Potensi Melimpah, Realita Finansial Terbatas
Raksasa Energi Jateng: Potensi Melimpah, Realita Finansial Terbatas

Jawa Tengah rupanya menyimpan raksasa energi terbarukan yang tertidur lelap, dengan potensi teknis menyentuh angka fantastis 285.490 Megawatt (MW). Sayangnya, raksasa ini masih terbelenggu realita, karena baru sekitar 4,3 persen atau 12.349 MW yang dinilai benar-benar layak secara finansial. Fakta mengejutkan ini menjadi sorotan utama dalam Focus Group Discussion (FGD) Forum Energi Daerah (FED) Provinsi Jawa Tengah yang digelar oleh Dinas ESDM Jateng.

Dalam forum strategis yang turut diikuti secara virtual oleh Kasie dan Staf TKSA ini, terungkap ambisi besar regional Jawa-Bali untuk membalikkan keadaan. Target bauran energi bersih diproyeksikan meroket dari 32,8 persen pada tahun 2030 menjadi 41,5 persen pada 2035, yang bersiap menyalip dominasi batubara. Sebagai strategi quick win, pemerintah membidik kawasan industri untuk pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang potensinya menembus 120 GWp, meski masih dibayangi tantangan kuota jaringan transmisi.

"Transisi energi tidak hanya soal membenahi sumber listrik, tetapi juga merevolusi cara kita bergerak," demikian benang merah dari simulasi mobilitas yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Sektor transportasi di Jateng saat ini masih terpusat di Semarang dan Solo sebagai magnet mobilitas utama, memicu beban lalu lintas yang masif di jalur Pantura. Untuk menekan angka emisi gas buang, pemerintah mendorong kaidah Avoid-Shift-Improve, mengalihkan ketergantungan pada kendaraan pribadi menuju transportasi massal berkapasitas tinggi seperti BRT Transjateng.

Pemodelan Stock Turnover (LEAP) dalam diskusi ini juga menelurkan simulasi kebijakan yang cukup radikal. Apabila pemerintah memberlakukan pembatasan usia kendaraan secara ekstrem, seperti maksimal 20 tahun untuk mobil dan 15 tahun untuk motor, maka daerah harus bersiap menghadapi gelombang penghancuran kendaraan (scrappage) dalam skala masif. Di sisi lain, skenario pelarangan penjualan kendaraan berbahan bakar fosil (ICEV) mulai 2030 justru terbukti paling ampuh mempercepat penurunan emisi secara jangka panjang.

Rencana transisi energi dan transportasi ini menyodorkan pilihan yang tajam bagi para pemangku kebijakan. Jawa Tengah kini berpacu dengan waktu untuk mengeksekusi skenario hijau ini sebelum beban emisi industri dan kemacetan jalan raya benar-benar melumpuhkan kualitas ruang hidup warganya.

--

(ace/dishubklt)

What's Your Reaction?

like
0
dislike
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0